Employee engagement pertama kali diperkenalkan oleh kelompok peneliti Gallup pada tahun 2004. Employee engagement telah diklaim dapat memprediksikan peningkatan produktivitas pada karyawan, profitabilitas, mempertahankan karyawan, kepuasan konsumen serta keberhasilan untuk organisasi, sehingga topik ini menjadi isu yang hangat diperbincangkan dikalangan akademisi dan profesional. Dari beberapa pendapat mengenai employee engagement dapat ditari kesimpulan bahwa employee engagement merupakan sebuah keterlibatan emosional seorang karyawan terhadap perusahaan atau individu terhadap organisasinya yang membuat individu atau karyawan tersebut melakukan pekerjaannya melebihi ekspektasi perusahaan.
Komponen utama dalam employee engagement terdiri atas 3 yaitu :
1. Komponen kognitif , berisi hal-hal yang dipikirkan karyawan tentang perusahaan tempat mereka bekerja. Dari komponen ini dapat dilihat apakah karyawan dan perusahaan memiliki kecocokan level pemikiran ,artinya apakah karyawan mempercayai tujuan organisasi serta mendukung nilai-nilai yang dianut perusahaan.
2. Komponen Afektif, merupakan hal-hal yang dirasakan karyawan terhadap perusahaan, yang memperlihatkan ikatan emosional antara karyawan dan perusahaannya, seperti rasa bangga menjadi bagian dari organisasi.
3. Komponen perilaku, yang merujuk pada 2 hal yaitu pertama apakah seorang karyawan berusaha maksimal dalam bekerja, dan kedua, apakah karyawan tersebut bersedia bertahan dalam perusahaan.
Secara umum terdapat 3 (tiga) kluster utama yang menjadi penggerak employee engagement, yaitu :
1. Organisasi
Hal-hal terkait organisasi yang dapat menjadi penggerak employeeengagement adalah budaya organisasi, visi dan nilai yang dianut, brand organisasi. Budaya organisasi yang dimaksud adalah budaya organisasi yang memiliki keterbukaan dan sikap supportive serta komunikasi yang baik antara rekan kerja. Keadilan dan kepercayaan sebagai nilai organisasi juga memberikan dampak positif bagi terciptanya employee engagement. Hal-hal ini akan memberikan persepsi bagi karyawan bahwa mereka mendapat dukungan dari organisasi.
2. Manajemen dan Kepemimpinan
Engagement dibangun melalui proses, butuh waktu yang panjang serta komitmen yang tinggi dari pemimpin. Untuk itu, dibutuhkan kekonsistenan pemimpin dalam mementoring karyawan Dalam menciptakan employee engagement, pimpinan organisasi diharapkan memiliki beberapa keterampilan. Beberapa diantaranya adalah teknik berkomunikasi, teknik memberikan feedback dan teknik penilaian kinerja (McBain, 2007). Hal-hal ini menjadi jalan bagi manajer untuk menciptakan employee engagement sehingga secara khusus hal-hal ini disebut sebagai penggerak employee engagement.
3. Working life
Kenyamanan kondisi lingkungan kerja menjadi pemicu terciptanya employee engagement. Ada beberapa kondisi lingkungan kerja yang diharapkan dapat menciptakan employee engagement. Pertama, lingkungan kerja yang memiliki keadilan distributif dan prosedural. Hal ini terjadi karena karyawan yang memiliki persepsi bahwa ia mendapat keadilan istributif dan prosedural akan berlaku adil pada organisasi dengan cara membangun ikatan emosi yang lebih dalam pada organisasi. Kedua, lingkungan kerja yang melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan. Kondisi ini mempengaruhi karyawan secara psikologis, mereka menganggap bahwa mereka berharga bagi organisasi. Hal ini membuat karyawan akan semakin terikat dengan organisasi. Ketiga, organisasi yang memperhatikan keseimbangan kehidupan kerja dan keluarga karyawan. Dalam banyak penelitian dijelaskan bahwa ketika konflik antara pekerjaan dan keluarga terjadi, karyawan akan cenderung memutuskan keluar dari pekerjaan. Oleh karena itu manajer harus menjaga keseimbangan keduanya sehingga karyawan merasa bahwa pekerjaan tidak mengancam kehidupan keluarganya.
Semakin populernya penggunaan konsep employee engagement dalam praktik dan penelitian disebabkan karena ada kesepakatan umum mengenai dampak positif dan signifikan dari employee engagement dalam kinerja organisasi dan hasil bisnis. Pada dasarnya, employee engagement merupakan konstruksi level individu. Employee engagement akan mempengaruhi performa organisasi secara positif ketika employee engagement memberi dampak terhadap karyawan terlebih dahulu. Oleh karena itu, employee engagement dianggap sebagai sesuatu yang dapat memberikan perubahan pada individu, tim dan organisasi.
Beberapa penelitian terdahulu menjelaskan dampak employee engagement pada individu. Employee engagement mempengaruhi kualitas kerja karyawan, meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi jumlah ketidakhadiran karyawan dan menurunkan kecenderungan untuk berpindah pekerjaan. Hal ini disebabkan karena karyawan yang memiliki derajat engagement yang tinggi akan memiliki keterikatan emosi yang tinggi pada organisasi. Keterikatan emosi yang tinggi mempengaruhi karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan (cenderung memiliki kualitas kerja yang memuaskan) dan akan berdampak pada rendahnya keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaan/perusahaan.
Beberapa penelitian terdahulu menjelaskan dampak employee engagement pada individu. Employee engagement mempengaruhi kualitas kerja karyawan, meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi jumlah ketidakhadiran karyawan dan menurunkan kecenderungan untuk berpindah pekerjaan. Hal ini disebabkan karena karyawan yang memiliki derajat engagement yang tinggi akan memiliki keterikatan emosi yang tinggi pada organisasi. Keterikatan emosi yang tinggi mempengaruhi karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan (cenderung memiliki kualitas kerja yang memuaskan) dan akan berdampak pada rendahnya keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaan/perusahaan.
Dari kerangka kerja tersebut terlihat bahwa kinerja perusahaan yang tinggi dapat dicapai kalau tiga syarat terpenuhi. Ketiga syarat tersebut adalah kepemimpinan yang efektif di tiap lini (leadership), karyawan yang ”engaged” (employee engagement yang tinggi) sehingga memberikan kontribusi yang maksimal serta kepercayaan dalam perusahaan (organizational belief).
Dari kesimpulan diatas dapat dianalisis bahwa analisis sebuah organisasi memiliki ketergantungan yang saling berkaitan dengan setiap individu yang terlibat didalam organisasi tersebut. Individu-individu tersebut yang dalam hal ini karyawan perusahaan merupakan bagian dari struktur organisasi yang berperan besar dalam menentukan pencapaian tujuan perusahaan. Untuk itu diperlukan adanya pengelolaan sumber daya manusia yang baik supaya organisasi dapat terdorong ke arah tujuan perusahaan.
Jika kita mengaitkan materi diatas dengan perilaku organisasi maka untuk menciptakan perusahaan yang solid diperlukan adanya kinerja sumber daya manusia yang memadai. Dalam meningkatkan kinerja sumber daya manusia perusahaan harus memperhatikan tingkat employee engagement dari karyawannya. Dimana employee engagement adalah sebagai sebuah bentuk pernyataan karyawan terhadap pekerjaan mereka melebihi apa yang diharapkan organisasi.
Employee engagement dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Perilaku
Kepribadian seseorang akan membentuk perilaku seseorang. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap tingkat employee engagement.
2. Motivasi
Setiap individu memiliki latar belakang dan motivasi yang berbeda. Perusahaan perlu melakukan pembentukan motivasi karyawan secara rutin untuk tetap membuat mereka terdorong ke arah yang lebih baik di dalam pekerjaannya dalam rangka meningkatkan employee engagement.
3. Kepuasan
Di saat seorang karyawan merasa puas maka akan muncul rasa nyaman. Perasaan-perasaan itulah yang akan membentuk employee engagement dalam sebuah organisasi.
4. Komitmen
Employee engagement dapat membentuk sebuah komitmen karyawan. Karena dengan adanya employee engagement seorang karyawan akan bekerja sengan sukarela.
5. Persepsi
Persepsi setiap individu itu berbeda-beda hal ini terkadang dapat menjadi penghambat ataupun pendorong terjadinya employee engagement dalam suatu organisasi.
Dari beberapa hal diatas dapat dilihat bahwa banyak aspek materi perilaku organisasi yang saling berkaitan dengan employee engagement. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, kinerja karyawan merupakan dasar bagi kinerja organisasi, artinya secara tidak langsung employee engagement berperan dalam peningkatan kinerja organisasi.
Tingkat engagement ini harus dikuantifikasi dengan cara melakukan survey yang bersifat periodik dan continue. Employee engagement survey ini juga harus bersifat customized, karena setiap organisasi mempunyai karakteristik yang khas dan unik.
sumber: Employee Engagement: Upaya Peningkatan Kinerja Organisasi, Meily Margaretha, Susanti Saragih, Universitas Kristen Maranatha Bandung, Indonesia, 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar